Gempa 6,0 SR Guncang Suamlaki Maluku

Gempa 6,0 SR menggoyang Saumlaki, Maluku, pada Rabu 17 November 2010 malam. Getaran gempa yang terjadi pada kedalaman 30 meter tidak punya potensi mendatangkan tsunami.

Berdasarkan informasi dari BMKG, goncangan gempa terjadi pada sekitar pukul 22.53.33 WIB. Lokasi gempa berada dalam jarak 8.06 Lintang Selatan-129.70 Bujur Timur, dan 180 kilometer Barat Daya Tual Maluku.

Gempa memang kerap menguncang kawasan Maluku dalam satu minggu ke belakang. Selain daerah Saumlaki, daerah Tual Maluku juga kerap digoyang gempa. Pada Rabu siang tadi, gempa dengan kekuatan 6,4 SR terjadi pada daerah itu.

Gempa terjadi pada kawasan Barat Daya Tul Maluku pada 5,92 Lintang Selatan dan 130,87 Bujur Timur. Hingga kini belum ada laporan kerusakan yang diakibatkan dari gempat pada dua lokasi di Maluku ini. (umi)


www.vivanews.com

Awan Panas Merapi Membumbung 1 Km

Merapi masih beraktifitas
Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah masih mengeluarkan awan panas. Pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sepanjang Minggu 14 September 2010, awan panas membumbung hingga ketinggian 1 kilometer.

Dalam pengumuman yang dipublikasikan Minggu malam, Pusat Vulkanologi menyatakan bahwa awan panas masih terus keluar masing-masing mengarah ke Kali Gendol sejauh 14 kilometer, Kali Kuning 7 Km, dan Kali Boyong 10 Km di Kabupaten Sleman.

Awan panas juga mengarah ke Kabupaten Magelang melalui Kali Bedog sepanjang 8,5 Km, Krasak 8 Km, Bebeng 11,5 Km, Sat 7 Km, Lamat 5 Km, dan Senowo 6 Km. Sedangkan ke arah Boyolali melalui Kali Apu sepanjang 4 Km dan Kabupaten Klaten melalui Kali Woro sejauh 7 Km. "Sebaran material letusan bergantung arah angin," tulis keterangan itu.

Data Kegempaan Gunung Merapi mencatat sepanjang hari ini terjadi 25 kali gempa vulkanik, 18 gempa di antaranya gempa guguran.

Pusat Vulkanologi juga menyatakan, sejak pukul 00.00-18.00 erupsi masih terus berlangsung dengan intensitas yang tinggi. Ancaman bahaya langsung erupsi Gunung Merapi berupa awan panas dan ancaman tidak langsung berupa lahar.

"Sehubungan masih tingginya aktivitas vulkanik Merapi, Pusat Vulkanologi merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di sekitar alur sungai dari Merapi."

www.vivanews.com

Gempa Merapi Masih Terus Terjadi

Hingga Jumat, 12 November 2010, sekitar pukul 23.00 WIB, gempa tremor di Gunung Merapi, Yogyakarta, masih terus terjadi.

“Energi masih tinggi dan tremor terus-menerus terjadi,” kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, saat dihubungi melalui telepon.

Surono menyebutkan gempa vulkanik juga masih terjadi sebanyak empat kali pada malam ini. Sementara itu, status Gunung Merapi sampai sekarang masih di level empat atau awas.

Dia menambahkan tadi sore, pukul 17.38 WIB hingga 18.40 WIB terpantau awan panas meluncur ke arah selatan barat daya, yaitu sekitar Kabupaten Sleman.

“Namun jaraknya tidak dapat dipastikan karena kondisi awan yang gelap,” ujar Surono.

Sementara itu, juru bicara Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, Tresno Heru, mengungkapkan jumlah korban yang meninggal sejak letusan Gunung Merapi kedua awal November 2010 hingga saat ini tercatat 161 orang, delapan di antaranya baru dievakuasi hari ini dengan kondisi mengenaskan. (art)

www.vivanews.com

"Merapi Itu Seperti Harimau Lapar"

Sejumlah warga diduga masih tertimbun di lereng Gunung Merapi sejak gunung ini erupsi, 26 Oktober lalu. Relawan yang mencoba mengevakuasi para korban kini tak bisa hanya mengandalkan teori.

Salah satu relawan, Iman Surahman mengatakan evakuasi korban Merapi kini harus mengandalkan feeling dan doa. Sebab Merapi kini seperti harimau lapar.

"Kami masuk (dusun untuk evakuasi) kalau dia [Merapi] sedang lengah atau tidur," kata Iman dalam perbincangan dengan VIVAnews, Jumat 12 November 2010.

Relawan pun akhirnya seperti kucing-kucingan dengan awan panas yang dimuntahkan Merapi. "Sering kami sudah jalan mau evakuasi, terpaksa turun lagi karena ada gerakan wedhus gembel (awan panas)," kata dia.

Satu pengalaman yang paling tak terlupakan oleh relawan yang juga pendongeng ini adalah saat mengevakuasi salah satu wartawan VIVAnews, Yuniawan Wahyu Nugroho. Saat itu, Wawan ditemukan tewas di rumah juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, 26 Oktober lalu.

Pengalaman kedua yang paling dia ingat, saat menyisir sebuah dusun. Iman sempat menginjak jasad korban letusan yang tertimbun pasir. "Waktu saya injak pasir, kaki saya tersangkut tangan korban."

Iman langsung mengangkat jasad tersebut. "Mungkin dia mau bilang, angkat saya duluan."

Relawan lainnya, Akhsin Muamar juga menceritakan bagaimana relawan berpacu dengan awan panas saat melakukan evakuasi. Apalagi sekarang tak ada batang pohon atau rumah yang menghalangi gerak wedhus gembel. "Sudah kayak jalan tol karena sebagian besar dusun dekat puncak sudah rata dengan tanah dan tertutup pasir," kata dia.

Seperti evakuasi hari ini di Dusun Bakalan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Relawan hanya bisa mengangkat dua jasad suami istri. "Pasir sudah menutup seluruh dusun itu."

Dia mengaku merinding saat menyisir dusun ini mengingat jumlah warga yang terkubur abu vulkanik dan pasir. "Dua mayat itu sudah sangat bau. Kami sampai mual," kata dia.

Dia mengakui letusan Gunung Merapi tahun ini sedikit berbeda. Akhsin lalu membandingkan dengan letusan Sinabung di mana dia pun menjadi relawan. "Kalau Sinabung meletus ya sudah selesai. Kalau Merapi ini ibarat orang mau muntah, dia meludah-ludah dulu," kata dia.

Namun, kata dia, evakuasi tetap harus dilakukan karena masih banyak dusun yang belum tersisir. "Kalau kami mengangkat jasad, pasti kami doakan dulu baru masuk kantung mayat." (umi)

www.vivanews.com

124 Warga Tewas Paska Letusan Merapi Kedua

Korban tewas akibat letusan Gunung Merapi pada 4 November 2010 terus bertambah. Hari ini, korban tewas bertambah 10 jiwa. Total korban tewas menjadi 124 jiwa.

"Dari total yang tewas, 62 sudah teridentifikasi," kata Kepala Bagian Humas RS Sardjito, Tresno Heru, di RS Sardjito, Yogyakarta, Jumat 12 November 2010.

Tresno menjelaskan, dari 10 korban tewas yang bertambah, sebanyak delapan jenazah ditemukan hari ini. Enam jenazah ditemukan di Ngancar, Cangkringan, sedangkan dua jenazah ditemukan di Bangkalan, Cangkringan.

Sedangkan dua jenazah meninggal setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Mereka adalah Sudino yang meninggal akibat luka bakar serius, dan Supartini yang meninggal dalam keadaan hamil sembilan bulan.

Untuk korban yang dirawat mencapai 91 jiwa. Terdiri dari 20 pasien luka bakar serius dan 71 pasien luka ringan.

Sedangkan untuk laporan warga yang hilang sat ini tercatat mencapai 253 orang. Sebagian besar adalah warga Cangkringan.

www.vivanews.com

Suami Istri Ini Terkubur di Rumah Sendiri

Tim SAR dan relawan Dompet Dhuafa pagi ini menemukan delapan jenazah korban letusan Merapi tahap kedua Jumat 5 November 2010 lalu. Kondisi jenazah tersebut sangat mengenaskan.

Delapan jenazah itu ditemukan sekitar pukul 06.30 WIB, Jumat 11 November 2010. Enam jenazah ditemukan Tim SAR di Dusun Ngancar, Cangkringan, Sleman, Yogjakarta. Sementara dua jenazah lain ditemukan tim relawan Dompet Dhuafa di Dusun Bakalan, Wukirsari.

Enam jenazah yang ditemukan tim SAR hingga kini belum diketahui identitasnya. Sedangkan dua jenazah yang ditemukan relawan Dompet Dhuafa diketahui bernama Hardono (45) dan Tri Karyani (40). Keduanya merupakan pasangan suami istri.

Saat ditemukan kondisinya mengenaskan. Keduanya tertimbun pasir sedalam satu meter di dalam rumah. "Kepala dan tangannya sudah hangus. Saat kita tarik dari timbunan pasir kepala dan tangannya terlepas," kata relawan Dompet Dhuafa, Akhsin, saat dihubungi VIVAnews.com.

Posisi Hardono dan Tri berdampingan. Keterangan dari warga setempat, kata Akhsin, sebetulnya saat wedhus gembel mengamuk seminggu yang lalu, Tri sudah sempat menyelamatkan diri. "Tapi dia lupa kalau suaminya masih ada di dalam rumah. Dia balik lagi dan membangunkan suaminya yang masih tidur, tapi akhirnya ikut tersapu wedhus gembel," kata Akhsin.

Semua jenazah yang ditemukan hari ini dibawa ke RS Sardjito untuk diotopsi.

www.vivanews.com

Luncuran 'Wedhus Gembel' Seperti Jalan Tol

Letusan Gunung Merapi kali ini dinilai hampir setara dengan yang terjadi pada 1822. Korban tewas saat itu mencapai 1.200 orang. Luncuran awan panas 'wedhus gembel' itu juga luar biasa dahsyat.

"Awan panas meluncur cepat hingga 9 kilometer. Sudah seperti jalan tol," kata Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X di Kantor Kepatihan, DIY, Kamis 11 November 2010.

www.vivanews.com

Korban Erupsi Merapi Sudah 205 Orang

Jumlah korban meninggal akibat erupsi Gunung Merapi sudah mencapai 205 orang. Jumlah itu termasuk korban pada erupsi pertama pada Selasa 26 Okobober 2010.

Hingga pukul 15.30 WIB, korban mininggal di daerah Jogyakarta mencapai 171 orang, dengan korban luka bakar 149 orang dan non luka bakar 22 orang. Sementara korban meninggal di daerah Jawa Tengah sudah 34 orang, dan korban luka bakar delapan orang dan luka non bakar 26 orang.

Data jumlah korban ini dirilis Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito, yang yang merujuk pada update data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sebelumnya, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono menyampaikan, pada pukul 00.00-03.00 WIB, cuaca sekitar Merapi cerah. Terlihat kepulan asap setinggi 700 meter dan sesekali terjadi luncuran lava pijar.

Kemudian pada pukul 03.00-05.00 WIB, terdengar gemuruh dari puncak Merapi. Hal ini menimbulkan asap setinggi 800 meter.

Pada pukul 05.20 WIB, awan panas kembali meluncur dari puncak Merapi. Jarak luncurnya mencapai 3 kilometer mengarah ke Kali Gendol. Letusan ini juga menimbulkan kepulan asap tegak setinggi 1 kilometer dari puncak Merapi.

Ditambahkan, kondisi merapi masih di level awas, dan masih ada api pada puncak Merapi. Tremor juga terus-menerus terjadi bersamaan dengan getaran. Pengungsi diimbau jangan kembali dulu ke daerahnya masing-masing. Jarak aman masih berada di radius 20 kilometer.

www.vivanews.com

Relawan Merapi: Banyak Mayat Tulangnya Hancur

Selama 10 tahun menjadi relawan, Eko Sulistyo (37), baru di Gunung Merapi ini dia menemui medan yang begitu sulit untuk mengevakuasi korban tewas. Buat dia, evakuasi korban letusan Merapi jauh lebih sulit dibanding medan bencana alam lain, bahkan jika dibandingkan tsunami Aceh 2004 sekalipun.

Sejak tahun 2000, Eko--ayah beranak tiga--bergabung di tim relawan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU). Dia sudah berkali-kali turut menggotong mayat-mayat yang bergelimpangan di wilayah bencana. Antara lain di Bantul dan Pangandaran pada 2006, letusan Merapi pada 2006, hingga dua bencana terakhir yang menghantam Tanah Air: tsunami Mentawai, Sumatera Barat; serta banjir bandang di Wasior, Papua Barat.

"Tingkat kesulitan di Merapi sangat tinggi karena sering mengeluarkan awan panas secara tiba-tiba. Bisa dalam sehari lima kali," katanya kepada VIVAnews.com, Kamis, 11 November 2010.

Awan panas dengan frekuensi dan volume tertinggi meluncur sejak 5 November dini hari. Yang bahaya, masih kata dia, jika saat sedang menggotong mayat tiba-tiba wedhus gembel meluncur.

Jika sudah begini, tim relawan pun hanya bisa berlari lintang-pukang, sekencang yang mereka bisa, untuk menyelamatkan nyawa mereka sembari membawa mayat. Lantaran itu, tidak jarang tim evakuasi harus bolak-balik turun dari lereng Merapi.

Tidak hanya itu, di lokasi debu dan pasir sisa wedhus gembel juga masih sangat panas. "Selama di Merapi, saya sudah tiga kali ganti sepatu," katanya.

Sepatu pertama, dari jenis biasa, langsung melepuh dan meleleh tak lama setelah menginjak debu panas itu. Berganti sepatu jenis kedua, tipe boot, juga melebur karena panas. Kini, Eko memakai sepatu khusus yang biasa dipakai pemadam kebakaran. Dan lumayan, lebih awet dipakai.

Saat mengevakuasi korban, Eko yang sehari-hari mengelola permainan tembak paintball dan pengusaha onderdil mobil tua Land Rover jenis Defender ini kerap dipercaya berada di garis paling depan. Dia adalah pembuka jalan pertama saat Desa Gelagaharjo, Cangkringan, ludes diterpa awan panas. Bukan apa-apa, ini karena ia punya alat yang tak dimiliki relawan lain: tongkat dan perangkat ski es. Dengan peralatan ini, dia bisa leluasa masuk ke daerah yang baru disapu awan panas.

Eko tak pernah lupa masing-masing kondisi jasad yang dia temukan. Ada yang tangannya sudah sangat kering dan rapuh. Ada yang bagian kepala dan tulang lainnya tak lagi bisa diangkut ke kantung mayat, karena sudah begitu hancur. "Apalagi waktu Jumat dini hari, saya melihat korban di Pakem semua sudah tertutup debu. Kulit mukanya terkelupas," katanya, terbata-bata.

Selama sepuluh tahun, Eko terus menguatkan istrinya, Fifi, dan ketiga anaknya untuk mengikhlaskan dia setiap kali berangkat ke medan bencana. "Saya selalu bilang ke istri, kalau kamu melihat orang salaman dengan Obama dan SBY, itu biasa. Tapi, kalau yang menggotong mayat, menyelamatkan orang, itu yang luar biasa. Tidak semua orang bisa." (kd)

www.vivanews.com

Lagi Mayat Ditemukan, 186 Tewas di Merapi

Dua kendaraan Haglun (amfibi) PMI  
Satu mayat korban erupsi Gunung Merapi kembali ditemukan di Panguk Rejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Penemuan jenazah Salimin ini menambah deretan korban tewas jadi 186 orang sejak Merapi mulai bererupsi pada 26 Oktober 2010.

Menurut Tengo, seorang relawan dari Komunitas Lereng Merapi, jasad Salimin ditemukan di sebuah Pos Ronda di Krangkah. Jasad Salimin ditemukan pukul 06.00 pagi ini, Rabu 10 November 2010. Menurut Tengo, yang ditemui di Rumah Sakit dr Sardjito, Yogyakarta, Salimin diduga tewas dalam erupsi besar beberapa hari lalu.

Ketika ditemukan, jenazah langsung dibawa, tak menunggu penemuan jenazah lain.

Penemuan jenazah Salimin ini menambah korban tewas menjadi 186 orang. Pusat Informasi Publik Kementerian Kesehatan sebelumnya merilis total meninggal 185 orang, dengan total rawat inap 1.235 orang dan pengungsi 279.779 orang.

Pengungsi terbesar dari Kabupaten Magelang 88.274, lalu Kabupaten Klaten 93.224, Sleman 52.945, Boyolali 39.767, Kabupaten Kulon Progo 2.797 dan Kota Magelang 2.772. Kementerian Kesehatan juga sudah membentuk 440 pos kesehatan di pengungsian.

Laporan Erick Tanjung | Yogyakarta

www.vivanews.com

Aktivitas Merapi Menurun

Aktivitas Gunung Merapi terpantau terus menurun. Meski demikian, statusnya belum diturunkan. Merapi masih berstatus awas.

Berdasarkan laporan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, aktivitas Merapi pada Rabu 10 November 2010 pukul 00.00-06.00, terpantau menurun.

Dalam periode tersebut terpantau terjadi dua kali gempa vulkanik dan lima kali guguran awan panas. Namun, gempa tremor masih tejadi secara beruntun.


Berdasarkan pengamatan secara visual, Merapi dilaporkan dapat terlihat jelas dari Pos Darurat di Ketep. Teramati asap condong ke Barat dengan tinggi 500 meter pada pukul 01:07 WIB dan 800 m pada pukul 03:58 WIB serta asap berwarna putih kecoklatan dengan arah Barat Laut pukul 05:06 WIB.

Suara gemuruh dengan intensitas lemah hingga sedang masih terdengar pada pukul 00:15, 00:30, 01:07, dan 03:58 WIB. angin tenang dengan arah dari Timur ke Barat hingga Barat Laut.

Badan ini juga mencermati adanya endapan lahar di semua sungai yang berhulu di puncak Merapi dari arah Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Barat Laut. Sungai-sungai itu yakni meliputi Kali Woro, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Senowo, Kali Trising, dan Kali Apu.

Berdasarkan pemantauan tersebut, disimpulkan aktivitas Merapi masih tinggi. "Dengan kondisi tersebut, maka status aktivitas Gunung Merapi masih tetap pada tingkat Awas (level 4). Ancaman bahaya Merapi dapat berupa awanpanas dan lahar," jelas Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono. (umi)

www.vivanews.com

Merapi Telah Lewati Fase Paling Berbahaya

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandrio, memastikan Gunung Merapi telah melewati fase berbahaya. Tapi status Merapi masih tetap awas karena masih terjadi erupsi.

"Merapi memang masih erupsi, tapi intensitasnya sudah menurun sejak dua hari terakhir. Tidak sebesar sebelumnya, dan awan panas yang keluar jangkauannya tidak terlalu jauh," ujarnya saat dihubungi VIVAnews, Selasa 9 November 2010 .

Menurutnya, sangat kecil kemungkinan akan terjadi letusan besar yang mampu mengeluarkan bahan material melebihi 100 juta meter kubik.

"Jadi bisa dipastikan kalau Merapi sudah melewati fase berbahaya," ujarnya.

Namun saat ini status Merapi masih tetap awas. Zona sterilisasi juga masih dalam jarak 20 kilometer. Ditambahkan, aktivitas Gunung Merapi pada 2010, memang sangat berbeda dengan letusan 100 tahun terakhir.

Karena letusan melebihi letusan yang terjadi pada 1872. Dimana Merapi mengeluarkan lebih dari 100 juta meter kubik dengan suara gemuruh melebihi 60 kilometer dan melewati masa getaran lebih dari lima hari. Dengan kecepatan injeksi magma dari kedalaman 6 kilometer sebesar 25 meter kubik.

Subandrio juga memastikan kalau gempa yang terjadi di Bantul siang tadi, tidak berpengaruh pada aktivitas Merapi. Karena sumber magma di Merapi berasal dari kawasan Imogiri.

"Sampai saat ini, gempa siang tadi tidak ada pengaruhnya terhadap Merapi," ujarnya. (sj)

www.vivanews.com

Intensitas Merapi Turun, Status Tetap Awas

Paska erupsi pada tahap kedua Jumat 5 November 2010, intensitas Gunung Merapi cenderung menurun. Namun demikian tidak berarti status Merapi akan diturunkan. Status Merapi hingga saat ini masih awas sehingga warga yang berada di kawasan 20 kilometer dari puncak Merapi masih harus diungsikan.

"Status Merapi saat ini masih awas. Ini untuk keselamatan penduduk," kata Samsul Maarif, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, di Yogyakarta, Selasa 9 November 2010

Dengan status Gunung Merapi masih awas ini maka yang sangat diperhatikan adalah warga yang tinggal di bibir sungai yang bermuara di Gunung Merapi. Masyarakat yang tinggal di 500 meter dari kanan dan kiri sungai juga harus disterilkan.

"Masyarakat yang berada di bantaran Sungai Code juga harus waspada karena dengan intensitas tinggi dapat dimungkin terjadinya banjir lahar," paparnya.

Menurut Samsul selama penanganan pengungsian yang sudah sepekan berjalan menemui masalah penerangan sehingga BNPB telah mendistribusikan 50 jenset ke daerah-daerah yang memerlukan.

"Sedangkan secara umum yang diperlukan adalah MCK. Nantinya BNPB akan bentuk petugas yang akan membersihkan MCK dan digaji BNPB," terangnya

Lebih lanjut Samsul menyatakan, BNPB akan membangun barak-barak pengungsian yang nantinya dapat digunakan untuk sekolah bagi para pengungsi.

"Bangunan untuk sekolah tidak mesti bangunan semi permanen, namun juga bisa dengan mendirikan tenda-tenda," tandasnya

Laporan: Juna Sanbawa| Jogyakarta

www.vivanews.com

Lahar Merapi Jebol Tiga Dam di Kali Putih

Hujan di puncak Gunung Merapi menyebabkan beberapa sungai yang berhulu di gunung tersebut banjir lahar dingin. Di Kali Putih, banjir lahar ini menyebabkan tiga dam jebol. Walhasil, warga di sekitar sungai terpaksa diungsikan.

Derasnya banjir lahar dingin di Kali Putih terlihat dari bibir sungai yang ambrol di sejumlah titik. Informasi yang dikumpulkan dari sejumlah warga yang tinggal di sekitar bantaran Kali Putih menyebutkan terdapat tiga bendungan yang jebol dihantam banjir lahar dingin, yaitu dam di Kemiren, Ngepos, dan Srumbung.

Salah seorang warga Kemiren, Joko mengatakan dam jebol akibat tak mampu menahan material Merapi.

"Arusnya sangat deras dan kuat, bendungan jebol dan ikut terbawa arus. Banjir juga menyebabkan aliran sungai yang sebelumnya lurus menjadi berbelok ke arah kiri,” ujar dia, Selasa, 9 Nopember 2010.

Padahal dam tersebut baru dibangun sekitar dua tahun lalu. Jebolnya bendungan itu menyebabkan warga yang tinggal di sekitar aliran Kali Putih mengungsi. “Hampir semua warga di sekitar aliran sungai ini mengungsi. Karena mereka takut jika banjir lahar dingin itu meluap dan mengenai tempat tinggalnya,” tuturnya.

Ditemui terpisah, Darno, warga Ngepos, Srumbung, mengungkapkan jebolnya dam di wilayah Ngepos terjadi sejak tiga hari lalu. “Padahal dam ini telah dibuat sejak lama dan sangat kuat. Tapi kali ini tidak mampu menahan banjir lahar. Warga di sekitar Kalu Putih yang tinggal di Kecamatan Srumbung langsung diungsikan semua,” ucapnya. (Laporan: Fajar Sodiq, Magelang | kd)

www.vivanews.com

Salah Mengungsi, Satu Keluarga Hilang

Letusan Gunung Merapi membuat Gono Mulyono, warga Deles, Siderojo, Klaten. Ia tak pernah menyangka harus kehilangan istri, anak, serta 4 kerabatnya akibat keganasan awan panas (wedhus gembel).

Rasa kepedihan dan penyesalan masih menyelimuti raut muka Gono. Ia merasa bersalah karena telah memutuskan mengungsikan istri dan kedua anaknya ke tempat mertua di Bronggang, Cangkringan, yang justru merupakan daerah berbahaya dari 'sapuan' Wedhus Gembel.

"Awalnya kami sekeluarga mengungsi di Deles, Klaten. Namun karena tempat pengungsi cukup padat, saya memutuskan untuk membawa istri dan kedua anak saya ke rumah mertua di Bronggang," tuturnya saat berbincang dengan VIVAnews di ruang Forensik RS Sardjito, Yogyakarta, Selasa 9 November 2010.

Selain karena tempat pengungsi yang padat dan kurang nyaman bagi kesehatan kedua anaknya yang masih kecil, Gono juga memikirkan faktor keselamatan keluarganya dari ancaman letusan Merapi. "Maka saya putuskan mereka tinggal di tempat mertua, biar lebih aman dan nyaman. Jadi biar saya saja yang tinggal di pengungsian," ungkapnya.

Namun, petaka itu datang setelah, Jumat 5 November dini hari, Gunung Merapi mengeluarkan wedhus gembel dan menerjang wilayah-wilayah yang sebelumnya dinyatakan aman, salah satunya desa Bronggang. "Saya kaget ternyata desa Bronggang sudah diterjang oleh awan panas. Padahal sebelumnya daerah itu masih aman," kenangnya lirih.

Tanpa pikir panjang, Gono langsung bergegas dari tempat pengungsian di Deles untuk menjemput keluarganya di Bronggang. Namun upaya itu terlambat karena awan panas lebih cepat memporak-porandakan dusun Bronggang. "Saya coba naik ke sana (Bronggang) tapi oleh petugas dilarang karena situasi sudah mencekam dan sangat berbahaya," ujarnya sambil meneteskan air mata.

Tidak menyerah dan putus asa, Gono pun berupaya mencoba menghubungi istrinya melalui handphone, namun lagi-lagi upaya tersebut tak membuahkan hasil, pasalnya handphone milik istrinya, Masini, sudah tidak aktif. "Saya cuma bisa nangis dan tak bisa apa-apa lagi," ungkap dia.

Hingga saat ini Gono belum juga mengetahui keberadaan keluarganya. Namun berbagai upaya terus dilakukan salah satunya mencari di tempat-tempat pengungsian hingga kamar mayat rumah sakit di Kalten dan Yogyakarta. "Keluarga saya yang hilang delapan orang yakni Masini (istri), Aprina dan Noval (anak), Triutama (keponakan), Hadi Suprihatin (mertua), Surat dan Wiriyadi (sepupu)," jelas dia.

Gono menduga saat kejadian itu berlangsung keluarganya masih berada di dalam rumah dan terjebak oleh wedhus gembel. "Sorenya saya sempat kontak istri, mereka berada di rumah dan situasinya aman," ingat Gono.

Namun ternyata itu merupakan kontak terakhirnya dengan sang istri. "Kalau memang mereka semua tewas saya harus lihat jenazahnya," katanya seraya berharap keajaiban bisa menemukan keluarganya dalam keadaan masih hidup.

www.vivanews.com

Gempa 5,6 SR di Yogya, Petugas Bencana Panik

Gempa kembali terjadi di Yogyakarta. Setelah dua hari lalu digoyang gempa 3,8 Skala Richter, hari ini gempa kembali terjadi dengan kekuatan lebih besar 5,6 Skala Richter.

Informasi yang didapat dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika menyebutkan gempa terjadi pada pukul 14.03.

Lokasi gempa di titik 8,98 Lintang Selatan-110,08 Bujur Timur. Gempa berada di kedalaman 10 kilometer, jaraknya 125 km barat daya Bantul. Gempa dipastikan tidak menyebabkan tsunami.

Gempa ini dirasakan hingga ke kota Yogyakarta. Petugas Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) dan wartawan yang sedang memantau aktivitas Gunung Merapi kaget begitu bumi berguncang.

Sontak mereka berhamburan ke luar. "Awalnya hanya goyang-goyang biasa, terakhir goyangan cukup kencang sehingga kami lari semua," kata salah satu wartawan.

Kepanikan juga sempat menimpa warga Bantul. Retno Hemawati, warga Kalisat, Triharjo, Pandak, Bantul mengaku kaget. Bersama anggota keluarga sempat berhamburan ke luar rumah. "Tapi gempa kali ini tidak sekuat dulu. Jadi kepanikan hanya sebentar," katanya kepada VIVAnews.com.


(Laporan: Juna Sunbawa, Yogyakarta | sj)

www.vivanews.com

Masa Tanggap Darurat Diperpanjang, Huntara Selesai Sebelum Natal

Terkait masih adanya korban gempa dan tsunami yang belum ditemukan, masa tanggap darurat pasca gempa dan tsunami Mentawai diperpanjang sampai dua minggu mendatang. Hal ini disampaikan oleh Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno di sela-sela kunjungannya ke RUSP M Djamil melihat korban tsunami yang masih dirawat, Senin (8/11/2010).

Dikatakannya, data terakhir dari Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar hingga kini tercatat sekitar 74 warga masih hilang. “Atas pertimbangan inilah mengapa kita menambah masa tanggap darurat sampai dua minggu ke depan,” papar Irwan yag di damping oleh Wakil Gubernur Muslim Kasim.

Menurutnya perpanjangan masa tanggap darurat ini juga dilakukan dalam rangka memudahkan upaya percepatan penanganan korban gempa dan tsunami. Disamping itu juga mempercepat penyelesaikan pembangunan rumah hunian sementara bagi warga di kepulauan tersebut.

“Kita berharap menjelang Natal 25 Desember mendatang hunian sementara korban gempa dan tsunami ini sudah selesai. Agar warga yang mayoritas Kristen ini bisa merayakan Natal dengan nyaman," katanya.

Lebih lanjut Irwan menambahkan, pemerintah hingga kini belum bisa menaksir kerugian akibat gempa dan tsunami tersebut. "Pemerintah Kabupaten Mentawai hingga saat ini belum melakukan pendataan lebih rinci," katanya.

Santunan bagi warga korban yang meninggal akan dibantu sebesar Rp4 juta rupiah dan untuk rumah warga yang rusak akan dibantu sebesar Rp15 juta untuk rusak berat dan Rp10 juta untuk rusak sedang. (*)

www.padang-today.com

Intensitas Aktivitas Merapi Menurun

Intensitas aktivitas Gunung Merapi sudah mulai menurun. Semburan awan panas hingga gempa vulkanik tak lagi seintens sebelumnya. Meski demikian, aktivitas Merapi diyakini masih sangat tinggi.

"Intensitas kegiatannya sudah menurun, tapi masih terjadi beberapa kali gempa vulkanik. Ini artinya secara umum aktivitas Merapi masih tinggi," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, saat berbincang dengan VIVAnews.com, Selasa, 9 November 2010.

Surono menjelaskan, dalam kurun waktu pukul 00.00-06.00 WIB tercatat terjadi 20 kali gempa vulkanik dan tiga kali awan panas berdaya rendah. "Meski demikian, kami menetapkan Merapi masih dalam status awas," ujarnya.

Atas dasar itu, lanjut Surono, pihaknya juga belum mengurangi radius berbahaya Merapi. "Masih tetap 20 kilometer," ujarnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merekapitulasi jumlah korban Gunung Merapi sejak letusan pertama lalu hingga 7 November 2010 pukul 18.00 WIB. Jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 135 orang. Berdasarkan lokasi, korban dari Sleman tercatat ada 123 orang, Klaten 2 orang, Boyolali 3 orang, dan Magelang 7 orang. (kd)

www.vivanews.com

GKR Hemas: Jangan Sampai Ada Bencana Kedua

Istri Gubernur DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mengingatkan agar pelayanan terhadap pengungsi diperhatikan. Jangan sampai pengungsi dibeda-bedakan dari sisi manapun.

"Para pengungsi sudah mengalami bencana. Mereka sudah menderita. Jangan sampai mereka menderita mendapat bencana kedua," kata GKR Hemas di sela-sela pengungsi di Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kuloprogo, DIY, Senin, 8 November 2010.

Hemas menegaskan, masyarakat setempat harus bisa menerima semua pengungsi. Jangan sampai ada tindakan diskriminatif yang dialami pengungsi.

"Jadi saya mohon masyarakat untuk menerima mereka tanpa membedakan suku, agama, dan ras. Dan ini pelajaran bahwa bencana ini akan menyatukan kita," kata Hemas yang juga anggota DPD dari DIY ini.

Hemas menegaskan para pengungsi akibat letusan Gunung Merapi ini sudah 'lintas provinsi'. Terutama provinsi DIY dan Jawa Tengah. Maka itu, jangan sampai ada perbedaan perlakuan yang diterima para pengungsi dari manapun asalnya.

"Tidak saja lintas kabupaten-kota di DIY, namun ada warga dari Kabupaten Magelang yang juga mengungsi ke Kulonprogo," kata dia lagi.

Kedatangan dari pengungsi itu kata Hemas tidak saja dari wilayah Sleman namun juga dari berbagai daerah yang masuk wilayah Kabupaten Magelang Jawa Tengah seperti dari kecamatan Srumbung, Ngluwar, Salam. "Ini jelas bahwa mereka adalah warga dari Jawa Tengah, sedangkan BNPB menyatakan tidak ada pengungsi Merapi yang lintas provinsi," tandasnya.

Lebih lanjut Hemas menyatakan kepada para pengungsi yang telah tinggal baik di rumah penduduk atau tempat-tempat yang telah disediakan oleh pemerintah setempat agar tidak berpindah-pindah. "Hal itu untuk mempermudah pendataan dan koordinasi dalam mengkoordinir soal pengungsian," tukas Hemas.

Pengungsian akibat bencana merap sendiri yang telah masuk ke wilayah Kabupaten Kulonprogo diperkirakan mencapai 5.763 jiwa. Dan jumlah itu akan terus bertambah karena dusun-dusun yang terkena dampak erupsi Merapi belum semuanya mengungsi.

Laporan: Juna Sanbawa l DIY, umi 


www.vivanews.com

Jasad Relawan Dikenali dari Gigi

Dua jasad relawan yang ditemukan tewas di Glagahardjo, berhasil diidentifikasi. Keduanya anggota Tim Relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana), Jupriyanto dan Aries Widyatmoko, relawan dari warga setempat.

Keduanya berhasil diidentifikasi setelah keluarga memeriksa langsung fisik korban di Ruang Forensik RS Sardjito, Yogyakarta, Senin 8 November 2010.

Namun sayangnya, kedua korban belum bisa diambil keluarga karena masalah administrasi. Ibu korban Aries Widyatmoko, Sri Rahayu, sangat yakin salah satu jasad itu adalah anaknya.

"Cirinya, kedua gigi di bagian depan cukup besar. Karena untuk tanda luka di bagian kaki kanan tidak bisa dikenali lagi. Mengingat, kaki kanannya hanya tinggal tulang dan badannya sudah hangus," kata Sri Rahayu yang juga anggota Tagana ini.

Sri menyesalkan pihak rumah sakit yang belum mengizinkan mengambil jenazah. Alasan rumah sakit, masih perlu data pembanding untuk melakukan verifikasi. Seperti misalnya foto anak keluarga atau keterangan administrasi dari kelurahan.

"Tolong, saya sudah susah jangan disusahkan lagi," kata dia berderai air mata. Sri dengan memohon meminta bila diperbolehkan, malam ini juga Aries akan dikuburkan di Telogowono, Tegal Tirto, Sleman. "Kami sudah sediakan liang lahatnya."

Nasib serupa dialami jenazah Jupriyanto. Adik korban Jupriyanto, Ade, dirinya harus menunggu izin untuk mengambil jenazah sang kakak yang juga warga Banjarsari, Cangkringan, Sleman. (umi)

www.vivanews.com
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
free web site traffic and promotion