Terlalu Sering Main PS Bisa Berakibat Begini!

Tidak dipungkiri, konsol game Playstation adalah salah satu sarana bermain yang menjadi favorit di hampir di seluruh negara. Namun hati-hati untuk tidak terlalu sering bermain dengan Playstation karena akan menimbulkan penyakit yang sulit untuk disembuhkan.

Seperti yang dikutip dari dari Odde (23/11), seseorang yang terlalu sering bermain dengan game Playstation, akan mengalami penyakit yang disebut sebagai 'Playstation Thumb'.



Sebenarnya itu bukan nama asli dari penyakit tersebut, namun karena kebanyakan penyakit itu diderita oleh gamer, terutama Playstation, maka dinamakan sebagai 'Playstation Thumb'. nama sebenarnya adalah 'Stenosing Tenosinovitis'.

Stenosing tenosinovitis adalah kondisi yang menyakitkan saat jari atau jempol seperti terkunci dan tak bisa digerakkan, baik ditekuk atau diluruskan. Hal ini disebabkan saraf yang terletak pada jempol atau jari lainnya mengalami penyempitan dan peradangan. Penyempitan saraf tersebut lantas mengakibatkan pembengkakan pada ibu jari dan terlihat sangat mengerikan, bahkan seperti melepuh.

Penyebab penyempitan saraf itu adalah terlalu seringnya ibu jari bergerak secara berulang-ulang dan berlebih. Bisa juga disebabkan karena aktivitas yang dilakukan terus-menerus dalam pekerjaannya, seperti merajut, meremas, mencengkeram, atau berkebun dengan intensitas tinggi dan berat. Pada laki-laki biasanya dipicu karena bermain musik atau playstation.

Gejala awal biasanya terasa nyeri pada pagi hari dan rasa tersebut akan bertambah saat siang hari.

Lantas, bagaimana cara pengobatannya? Istirahat.

Ya, istirahat adalah metode pengobatan yang sangat dianjurkan. Tentunya dengan tidak melakukan hal-hal yang memicu rasa sakit itu timbul. Bagi Anda pecandu Playstation dilarang untuk bermain konsol game tersebut itu dulu. Pengobatan lainnya bisa menggunakan obat-obat yang disarankan oleh dokter. Namun apabila terlalu parah, bedah adalah salah satu solusi untuk membuka saraf yang mengalami penyempitan.

Lama masa penyembuhan mungkin sedikit lebih lama, namun dinilai lebih efektif. Nah, bagi Anda yang sering bermain playstation diharapkan untuk tidak terlalu intens, sebab bahaya yang ditimbulkan selain 'kecanduan', gangguan penglihatan, juga pada saraf jari-jari Anda. Maka, berhati-hatilah, karena tidak semua perkembangan teknologi dapat membantu keseluruhan aspek kehidupan Anda.

sumber

22 Juni, Bulan Mendekati Bumi

Bulan akan mendekat ke bumi 4 hari lagi
Ilustrasi Supermoon
Satu lagi fenomena alam yang akan terjadi dalam minggu ini. Apalagi jika bukan Supermoon atau penampakan bulan dari bumi yang akan terlihat sangat besar.

Seperti yang dilansir oleh Cnet (16/6), diperkirakan akan muncul penampakan dari bulan dalam jarak dekat pada minggu ini. Hal ini akan terjadi antara tanggal 22 atau 23 Juni 2013 tergantung belahan bumi mana yang digunakan untuk melihat fenomena ini.

Supermoon kali ini sendiri dipercaya akan menjadi salah satu fenomena supermoon paling hebat sepanjang sejarah. Hal ini dikarenakan besarnya bulan yang akan terlihat nanti.

Diperkirakan, saat fenomena ini terjadi, bulan akan terlihat lebih dekat dan besar. jaraknya dari bumi akan mencapai 356 ribu km saja atau 48 ribu km lebih dekat dari bumi.

Bulan pun akan terlihat lebih terang saat fenomena ini terjadi. Hal ini lantaran posisinya yang juga akan lebih dekat dengan matahari.

Supermoon sendiri adalah sebuah fenomena yang membuat ukuran bulan lebih besar dari biasanya ketika dilihat dari bumi. Hal ini dikarenakan posisi matahari, bumi dan bulan yang sejajar sehingga daya tariknya membuat bulan lebih mendekat ke arah matahari dan bumi.

[nvl]

Sumber

Peneliti: Di Padang, Tsunami Tak Selalu Ditandai Laut Surut

Ilustrasi Tsunami © 2012 pakistanweatherportal.com
Para pakar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Earth Observatory of Singapore (EOS) menyatakan, tsunami yang terjadi akibat adanya gempa tidak selalu ditandai dengan surutnya air laut. Hal ini dinyatakan oleh peneliti dalam acara Pelatihan Penyusunan Rencana Kontinjensi Menghadapi Bencana Tsunami di Kota Padang.

Jamie Mc Caughey, Pakar dari EOS, menyatakan Padang merupakan salah satu tempat yang apabila terjadi tsunami tak didahului surutnya laut. Hal ini disebabkan karena ketika gempa terjadi, hampir seluruh dasar perairan di Barat Padang, langsung terangkat sehingga gelombang tsunami yang terbentuk langsung naik. Hal itu diungkapkan, setelah adanya penelitian ilmiah terkait adanya kemungkinan terjadinya gempa dengan kekuatan 8,8 Skala Richter yang berpusat di patahan Sunda Megathrust yang terletak di antara Pulau Siberut dan Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Gempa itu diperkirakan dapat memicu terjadinya tsunami besar pada suatu saat dalam kurun waktu yang tak bisa ditentukan, mulai dari sekarang hingga beberapa puluh tahun ke depan di wilayah Provinsi Sumatera Barat.

Para ahli memperingatkan agar masyarakat agar langsung mengungsi jika merasakan gempa selama lebih dari satu menit. Mereka juga mengingatkan agar tidak terlalu bergantung pada peringatan karena bisa saja terjadi kerusakan instalasi komunikasi. Selain itu, masyarakat diingatkan untuk tidak pergi ke pantai atau ke sungai untuk mengamati permukaannya karena terkadang tsunami besar datang tanpa air laut surut sebelumnya.

Hasil penelitian para pakar yang terdiri atas Prof. Danny Hilman Natawidjaja (LIPI), Prof Kerry Siech (EOS), Jamie Mc Caughey (EOS) dan Dr. Azhar Lubis (EOS) itu juga menunjukkan bebarapa skenario lainnya.

Di Kepulauan Mentawai, tsunami kemungkinan terjadi 1-2 menit atau 5-10 menit usai terjadinya gempa dengan ketinggian 5 - 15 Meter. Pergerakan daratan secara tegak lurus bisa ke atas atau ke bawah. Jika daratan bergerak ke bawah, tsunami bisa lebih tinggi dan mencapai daratan lebih jauh selama 3 jam.

Sementara di Pesisir Barat Sumatera, termasuk Padang, Pariaman dan Painan, paparnya melanjutkan, tsunami kemungkinan terjadi 20-30 menit atau kurang dari 20 menit usai terjadinya gempa. Ketinggian tsunami diperkirakan 5-11 Meter atau lebih dan bisa menyapu daratan hingga beberapa Kilometer selama 3 jam. Dalam skenario, gempa bisa berlangsung 2-4 menit yang bisa merusak atau merobohkan banyak rumah dan gedung di Mentawai, dan sekitar Pesisir Barat Sumatera Barat termasuk Padang, Pariaman, Painan dan sekitarnya.

[ikh]

Hidup Di Venus, Mungkinkah?

Ilustrasi Venus
Selama berpuluh-puluh tahun, para peneliti mencoba mencari tahu planet apa lagi yang bisa dihuni selain Bumi. Kali ini, mereka mencoba mencari kemungkinan itu di Venus.

Seperti yang dilansir oleh The Verge (2/5), telah diketahui bahwa salah satu aspek utama pendukung kehidupan adalah ketersediaan air. Oleh karenanya, planet yang bisa dihuni harus ditemukan dulu sumber airnya.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Sara Seager. Dirinya menyatakan bahwa air memang kebutuhan utama dalam membentuk kehidupan.

"Logikanya, air dibutuhkan untuk seluruh kehidupan dan kita telah mengetahuinya. Jika sebuah exoplanet memiliki lapisan air, maka planet itu bisa ditinggali. Planet bisa berbeda dengan Bumi dalam hal menjaga ketersediaan air, namun suhu airnya haruslah sama dengan Bumi," kata Sara Seager, professor dari planetary sciences and physics, MIT.

Dengan menggunakan hipotesis baru Seager ini, maka bisa ditemukan 2.700 kandidat planet baru lagi untuk ditinggali. Hal ini pun menambah daftar 60-70 planet yang sebelumnya sudah diketahui bisa dihuni makhluk hidup.

Meski begitu, patut diketahui pula jarak antara planet terebut dengan orbitnya. Jika terlalu jauh atau dekat dengan matahari, maka kemampuan menyimpan airnya pun akan berbeda.
Seperti Venus contohnya, diketahui bahwa planet ini sudah sejak lama kering karena jaraknya yang terlalu dekat dengan matahari. Namun, dengan menggunakan hipotesis Seager, bukannya tak mungkin kita hidup di sana.

"Air di bumi merupakan efek rumah kaca yang parah. Oleh karenanya, planet dengan uap air yang sedikit tak akan menjadi panas jika terlalu dekat dengan bintang," kata Seager.

Sayangnya, beberapa peneliti masih menyangsikan hipotesis tersebut. "Bagaimanapun, saya meragukan sebuah planet yang kering mampu menjaga kehidupan karena tak adanya air," kata David Catling, professor dari planetary sciences and astrobiology, University of Washington.

Hingga kini, menemukan 'rumah' kedua bagi makhluk hidup ini pun masih belum menemukan titik terang. Berbagai perdebatan dan teori baru terus bermunculan sehingga belum ditemukan sebuah hipotesis yang benar-benar final.

[nvl]
 

Ini dia Pelangi Api Fenomena Langka di Langit

Fire Rainbows atau dalam bahasa Indonesia disebut Pelangi Api, memiliki warna-warna pastel yang indah dan berbentuk seperti api di angkasa.

Secara teknis, seperti dilansir amusingplanet, fenomena optik yang indah ini disebut circumhorizontal arc - es halo yang terbentuk oleh kristal es yang berbentuk piring di awan cirrus.Halo ini begitu besar sehingga muncul fenomena optik yang unik semacam ini.

Circumhorizontal arc yang berwarna cerah ini terjadi terutama selama musim panas dan pada garis lintang tertentu. Ketika matahari berada sangat tinggi di langit, sinar matahari yang masuk menjadi datar, sehingga segi enam berbentuk kristal es akan dipecah menjadi masing-masing warna seperti dalam sebuah prisma.

Kondisi yang diperlukan untuk membentuk sebuah Pelangi Api adalah matahari harus berada pada ketinggian 58 derajat atau lebih, harus ada pula ketinggian awan cirrus dengan kristal es berbentuk piring, dan sinar matahari harus memasukkan kristal es pada sudut tertentu. Inilah sebabnya mengapa circumhorizontal arc merupakan fenomena langka.

Sebuah circumhorizon arc yang berwarna-warni ini terjadi di langit Fredericton, New Brunswick, Kanada, pada tahun 2003. Posisi pengamat juga penting dalam hal ini. Circumhorizontal arc tidak dapat dilihat di lokasi utara 55 derajat lintang utara atau 55 derajat lintang selatan. Demikian juga pada saat-saat tertentu dalam setahun ketika pelangi itu terlihat.


Sebagai contoh, di London, Inggris, matahari hanya bisa mencapai ketinggian maksimal selama 140 jam antara pertengahan Mei dan akhir Juli. Sementara di Los Angeles, matahari lebih tinggi dari 58 derajat selama 670 jam antara akhir Maret dan akhir September.

Photos via Atopics, APOD and Wikipedia


[des]

Tak Ada Capung Pertanda Air Tercemar

Menurut Anda apa yang bisa dijadikan indikator air bersih? Air yang jernih dan tidak berbau? Bukan itu saja. Ada cara lebih mudah untuk menentukan apakah air bersih atau tidak. Lihat saja apakah masih ada capung di sekitar rumah Anda? Jika mulai jarang, tandanya ekosistem mulai terganggu.

Capung memiliki peran penting terhadap lingkungan dan kehidupan manusia, maka tidak bisa dianggap enteng. Meski hewan kecil tapi menjadi indikator air bersih. Menurut Wahyu Sigit, Ketua Indonesia Dragonfly Society, capung tak bisa hidup di sembarang perairan.

Serangga ini harus hidup di air bersih. Karena itu, jika di suatu sumber air tak ditemukan capung, masyarakat sekitar harus berhati-hati. Tandanya sumber air itu sudah tercemar dan ekosistemnya terganggu.

Kehidupan capung memang tidak dapat dipisahkan dari air. Sebelum menjadi capung dewasa, capung hidup sebagai serangga air selama beberapa bulan atau beber

"Capung hanya mau hidup di air bersih. Karena itu, capung menjadi penentu apakah air bersih atau tidak. Capung juga berperan sebagai pemangsa dan penyeimbang alami hama tanaman," kata Sigit.

Jika di sekitar rumah Anda masih menemukan capung, bersyukurlah, berarti kehidupan di sana masih alami dan bersih. Sebaliknya, jika Anda jarang menemukan capung, sebaiknya periksa lagi lingkungan Anda bisa jadi ada pencemaran.
apa tahun. Hewan itu hanya dapat bertahan hidup di dalam air yang bersih dan tidak tercemar.


[vic]

Keren, Ini Suara Rekaman Alexander Graham Bell 128 Tahun Silam

Setelah 128 tahun direkam, akhirnya suara orang pertama yang berhasil dijadikan obyek percobaan alat rekaman dapat didengarkan lagi.

Alexander Graham Bell adalah seorang ilmuwan, pencipta, dan pendiri perusahaan telepon Bell. Namun, menurut kongres AS pada bulan Juni 2002, Bell tidak diakui sebagai penemu telepon dan menetapkan Antonio Meucci, seorang imigran asal Italia, sebagai penemu telepon pada tahun 1849.

Dikutip The Verge (25/04), Bell pernah membuat perangkat eksperimen yang kemudian dia donasikan ke Smithsonian Institution. Perangkat tersebut adalah sebuah perekam cakram atau disc kecil.

Sayangnya, disc tersebut tidak dapat didengarkan dengan menggunakan pemutar disc atau komputer saat ini.

Akhirnya, pada tahun 2011 lalu, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Library of Congress yang menggunakan teknologi ciptaan Berkeley, mulai mencoba 'mengangkat' suara rekaman Bell tersebut agar dapat kembali didengarkan.

Rekaman dalam sebuah perekam cakram (disk) tersebut tertulis tanggal 15 April 1885. Dalam rekaman tersebut, Bell menyebutkan namanya sampai dengan berhitung.

Berikut hasil rekaman yang sudah dibuat dalam bentuk video dan diunggah ke YouTube :


source

Gawat, Kutub Utara Terus bergeser akibat pemanasan global

Kutub Utara dilaporkan telah mengalami pergeseran posisi ke arah timur. Bahkan posisi dataran es ini bergeser beberapa sentimeter per tahunnya.

Dilansir Softpedia (15/5), sejak tahun 2005 posisi Kutub Utara telah bergeser cukup drastis dari batas normalnya. Pergeseran posisi Kutub Utara ini sendiri merupakan akibat dari meningkatnya pemanasan global yang melanda planet bumi pada beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan lansiran tersebut, website Nature melaporkan jika antara 1982-2005 tercatat posisi Kutub Utara telah bergeser ke arah Labrador, Kanada sekitar 2 miliarsecond per tahunnya.

Namun, mulai 2005 Kutub Utara bergerak ke arah Greenland dengan angka pergeseran meningkat lebih dari tiga kali lipat sebesar 7 miliarsecond per tahunnya.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa melelehnya es di Greenland dan juga beberap tempat lain di bumi yang menyebabkan pergeseran Kutub Utara ini.

Dampak dari pergeseran Kutub Utara ini sendiri telah diteliti oleh University of Texas. Menurut penelitiannya, pergeseran posisi Kutub Utara ini berdampak pada terganggunya medan gravitasi bumi.

Selain itu, dampak dari pemanasan global terhadap Kutub Utara ini juga berimbas pada eksistensi mahluk hidup yang ada di kawasan tersebut seperti beruang kutub.

source

Akan Ada Letusan Gunung Berapi Di Bulan?

Letusan gunung berapi di Bulan (gawkerassets.com)
Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Geosciences, di masa depan, manusia akan menikmati pemandangan indah, yakni letusan gunung berapi di Bulan yang terlihat dari Bumi.

Menggunakan informasi yang dikumpulkan oleh seismometer yang dipasang di Bulan saat misi Apollo digelar, diketahui bahwa sekitar 30 persen lapisan yang mengelilingi inti Bulan yang terbuat dari logam merupakan zat cair.

Menurut Renee Weber, peneliti dari Marshall Space Flight Center NASA yang mengetuai studi pemetaan dan pemodelan Bulan, lava cair itu berada di kedalaman 1200 sampai 1350 kilometer di bawah permukaan Bulan.

Lalu, mengapa tidak ada gunung berapi aktif di sana?

Dikutip dari Gizmodo, 21 Februari 2012, permukaan Bulan sama seperti planet mati. Letusan gunung berapi terakhir yang terjadi di Bulan terjadi beberapa miliar tahun yang lalu.

Untuk mengetahui apakah akan ada letusan gunung berapi di bulan, sekelompok peneliti yang diketuai Mirjam van Kan Parker dan Wim van Westernen dari VU University, Amsterdam coba mencari jawabannya.

Berhubung manusia tidak bisa mengakses lava yang ada di Bulan, peneliti menggunakan sampel bebatuan seberat 350 kilogram yang dibawa oleh Apollo dari Bulan. Mereka kemudian menempatkan batu itu di kondisi serupa dengan perut Bulan. Yakni dengan tekanan lebih dari 45.000 bar serta temperatur sekitar 1.500 derajat Celsius.

Setelah menciptakan lava buatan, mereka kemudian menganalisa dan membuat simulasi komputer. Ternyata, diketahui bahwa magma Bulan kaya dengan titanium.

Artinya, lava cair itu terlalu berat untuk dapat mengalir ke permukaan Bulan. Padahal, agar lava bisa meletup di permukaan Bulan, ia perlu lebih ringan.

“Setelah magma terbentuk, mereka terakumulasi di lapisan bawah Bulan. Kira-kira seperti gunung berapi namun terbalik. Saat ini, Bulan sedang berada dalam fase pendinginan, demikian pula dengan bagian dalamnya,” kata Westrenen. “Ini menjawab pertanyaan mengapa tidak ada gunung berapi di Bulan,” ucapnya.

Tetapi, bagaimana dengan di masa depan?

Di masa depan, lava yang lebih dingin itu akan berubah komposisinya. Kemungkinan, ia akan menjadi tidak terlalu padat dibandingkan dengan zat-zat yang ada di sekelilingnya. “Magma yang lebih ringan ini dapat dengan mudah bergerak ke permukaan dan membentuk gunung berapi di Bulan,” kata Westrenen. “Itu akan menjadi pemandangan yang sangat indah,” ucapnya.

Sayangnya, tidak satupun dari kita yang hidup saat ini bisa melihat fenomena letusan gunung berapi di Bulan. Pasalnya, proses tersebut akan membutuhkan waktu jutaan tahun. (sj) www.vivanews.com

Ini Ramalan Newton Tentang Kiamat

lukisan isaac newton karya godfrey kneller
Literatur ilmu pengetahuan menulis nama Sir Isaac Newton dengan tinta emas. Ia adalah peletak dasar fisika klasik. Bukunya Philosophiae Naturalis Principia Mathematica yang diterbitkan pada tahun 1687 dianggap sebagai buku paling berpengaruh sepanjang sejarah sains.

Nama Newton belum beranjak dari daftar ilmuwan paling berpengaruh sepanjang massa. Ternyata tak hanya berpredikat fisikawan, matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, alkimiawan, ia juga seorang teolog. Pria kelahiran 1643 itu belakangan diketahui tertarik pada praktei supranatural dan menerapkan pendekatan ilmiah untuk mempelajari kitab suci dan mistisisme Yahudi.

Perpustakaan Nasional Israel, yang mengoleksi harta berharga buah pemikiran Newton, memamerkan 7.500 koleksi dokumen bertulis tangan Newton dalam versi digital dan mempostingnya secara online.

Di antara teks-teks yang menguning itu, ada prediksi tenar Newton tentang kiamat 2060.

Selain merevolusi pendekatan fisika, matematika dan astronomi di abad ke-17 dan 18. Juga meletakkan fondasi matematika klasik termasuk teori gravitasi dan tiga hukum gerak yang menyandang namanya, kurator koleksi humaniora museum nasional Israel mengatakan, Newton adalah seorang Kristen yang taat dan meyakini, kitab suci menyediakan "kode" alam semesta.

"Saat ini kita cenderung mendikotomikan sains dan keyakinan, namun bagi Newton, keduanya adalah selaras," kata Milka Levy-Rubin, seperti dimuat situs Daily Mail, 16 Februari 2012. "Newton meyakini, studi cermat terhadap teks kitab suci adalah bagian dari pengetahuan. Jika dianalisis dengan benar bisa digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi."

Agar lebih memahami obyek yang ia hadapi, Newton belajar Bahasa Ibrani, mengkaji supranatural filsafat Yahudi, mistisisme Kabbala, dan Talmud.

Dari telaah yang diakukan itulah, Newton membuat semacam kalkulasi dari Kitab Daniel, dan lalu memprediksikan kiamat akan terjadi dalam 1.260 tahun, dihitung mundur dari penobatan Charlemagne sebagai Kaisar Romawi pada tahun 800 Masehi.

Ia juga meyakini geometri Kuil Solomon mengandung kode kebijakan kuno tentang proporsi alam dan posisi manusia dalam Penciptaan.

Koleksi dokumen Newton juga mencakup interpretasi Newton terhadap Injil, teologi, dan budaya kuno, Tabernakel, dan geometri Kuil Solomon. Tak ketinggalkan sketsa peta Newton yang dipakai sebagai dasar kalkulasinya, dalam usaha mengungkap sandi rahasia yang ia yakini ada di alam semesta.

Perpustakaan Israel kali pertamanya memamerkan karya Newton pada 2007, namun baru kali ini mereka memutuskannya untuk mengunggah koleksinya ke internet, agar bisa dilihat semua orang. (umi) www.vivanews.com

Peneliti Temukan Ramuan Pembuat Emas ?

Kayu manis, salah satu rempah-rempah yang biasa ditemukan di dapur ternyata mampu menghadirkan cara yang lebih sederhana dan aman untuk membuat nanopartikel emas.

Menurut penelitian, partikel berbahan kayu manis itu juga bahkan bisa digunakan untuk mengatasi kanker.

Sebagai informasi, nanopartikel emas diketahui sangat bermanfaat untuk mendeteksi tumor, melakukan pencarian minyak, menerangi jalan dan menyembuhkan penyakit. Sayangnya, proses pembuatan partikel itu membutuhkan bahan kimia berbahaya.

Saat ini, ada beberapa cara untuk membuat nanopartikel emas. Namun umumnya cara yang digunakan melibatkan pelarutan asam chloroauric, atau yang disebut juga dengan garam emas, di dalam cairan dan menambahkan bahan kimia lain untuk mengendapkan atom emas.

Campuran umum lainnya misalnya menggunakan sodium sitrat, sodium borohydrida (yang juga digunakan untuk memutihkan bubur kayu) dan senyawa amonium, yang seluruhnya bisa berbahaya bagi manusia dan lingkungan.

Dalam rangka mempromosikan nanoteknologi ramah lingkungan, peneliti dari University of Missouri mencampurkan garam emas dengan kayu manis.

Saat dikombinasikan dengan nanopartikel, bahan phytochemical ini bisa memasuki sel kanker dan menghancurkannya atau membantu memetakannya agar prosedur medis yang lebih akurat bisa diterapkan.

“Nanopartikel emas kami tidak hanya sehat secara ekologi dan biologi, tetapi secara biologi mereka juga aktif melawan sel kanker,” kata Kattesh Katti, profesor di bidang radiology dan fisika dari University of Missouri School of Medicine.

Seperti dikutip dari PopSci, 5 Januari 2011, proses pembuatan partikel itu tidak membutuhkan listrik dan bahan kimia selain bahan dasarnya yakni garam emas.

Dalam laporannya yang dipublikasikan di jurnal Pharmaceutical Research, Katti menyebutkan bahwa kayu manis dan biji-bijian, dedaunan, dan jamu-jamuan lain bisa digunakan untuk mengonversikan metal ke nanopartikel tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya.

“Pendekatan nanoteknologi ‘hijau’ yang kami gunakan menandakan peran alam tidak bisa diabaikan dalam pengembangan nanoteknologi masa depan,” ucap Katti. (umi)

www.vivanews.com

Pisang Ambon Terancam Punah?

Anda suka pisang? Segera puaskan hobi Anda memakan buah itu. Sebab, sebuah jamur berbahaya yang disebut “Tropical Race Four” sedang mengancam untuk membunuh salah satu varietas yang banyak dimakan orang yakni Cavendish, atau sejenis pisang Ambon.

Jamur yang hanya menyerang pisang ini sudah mengganggu tanaman di berbagai kawasan di Asia. Di Taiwan, pernah terjadi kasus 70 persen tanaman gagal panen. Hal serupa dialami petani Australia, China, dan Filipina. Di Malaysia, jamur itu disebut sebagai HIV-nya pohon pisang.

Seperti dikutip dari Consumerist, Kamis, 6 Januari 2011, dilaporkan jika terserang jamur itu, pisang menjadi berbau busuk. Adapun pohonnya mengalami penciutan di bagian akar, sehingga tidak bisa berdiri tegak.

Para peneliti memperkirakan, jika tidak ditangani secara serius, dalam waktu dekat, jamur yang pertama kali diketahui muncul di kawasan Taiwan pada akhir 80-an ini akan menyebar hingga Amerika Tengah.

Untuk itu, saat ini sekelompok peneliti membuat dua tim yang bertugas menyelamatkan pisang Cavendish atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan p isang Ambon Putih.

Satu tim, diketuai oleh James Dale, peneliti asal Queensland University of Technology, Australia, berusaha memodifikasi pisang Cavendish secara genetik agar kebal terhadap jamur.

Tim lain, diketuai Juan Fernando Aguilar, peneliti dari Fundacion Hondurena de Investigacion Agricola, Honduras, yang berupaya untuk membuat varietas pisang lebih baik secara alami.

Harapannya, pisang varietas baru yang dihasilkan kedua tim peneliti nantinya dapat bertahan dan tidak akan diserang oleh jamur "Tropical Race Four" tersebut. (art)

www.vivanews.com

Ini dia, Kota Berpolusi Terparah Di Planet Bumi


Karabash merupakan sebuah kota kecil di kawasan Chelyabinsk, Rusia. Kota berpenduduk 15 ribu orang itu mulai ramai sejak tahun 1822, setelah para penambang menemukan cadangan emas di kawasan tersebut.

Di awal abad ke-20, penambang juga mulai menggali tembaga dari perut bumi. Sayangnya, setelah beberapa dekade biji tembaga dikuras dan masyarakat mendirikan pabrik peleburan logam, kota itu kemudian berubah menjadi kawasan darurat ekologi.

Seperti dikutip dari EnglishRussia, 6 Januari 2011, setiap tahun, pabrik itu mengeluarkan 180 ton gas yang kemudian jatuh ke bumi dalam bentuk hujan asam di kawasan sekitarnya. Sebagai bukti parahnya polusi dan hujan asam itu, pegunungan di sekitar Karabash kehilangan seluruh pohonnya.

Kota Karabash sendiri sangat berdebu, masyarakat kerap mengalami gangguan pernafasan. Tumor, eksim, batu ginjal, pikun, pertumbuhan tidak normal, dan kelumpuhan otak merupakan penyakit yang umum terjadi.

Pada sungai yang mengalir di kota itu, konsentrasi zat besi mencapai 500 kali lipat dibanding rata-rata. Tidak ada tumbuhan yang mampu hidup dalam jarak 100 meter dari pinggir sungai.

Meski kondisi ekologi di Karabash sudah mulai membaik, fasilitas perawatan sudah mulai dibangun, akan tetapi kondisi daerah itu masih jauh dari normal. Gas dan asap yang keluar dari proses peleburan tembaga terus dihembuskan. Padahal emisi itu tidak pernah disaring sebelumnya. Gundukan material limbah pabrik juga mencapai tinggi lebih dari 50 meter.

Black Top Mountain, gunung di Karabash yang kehilangan hijaunya

Dengan hujan asam yang turun terus menerus, nyaris seluruh vegetasi mati. Hujan angin juga menghanyutkan tanah dan gunung-gunung berubah menjadi bongkahan batu.

Akhir 1989, pabrik di Karabash dihentikan karena situasi ekologi yang semakin parah. Seperlima penduduk kehilangan pekerjaan dan kota itu mengalami periode krisis. Namun meningkatnya masalah akibat sosioekonomi membuat produksi pabrik di kota itu kembali digulirkan pada tahun 1998

www.vivanews.com

Ditemukan, Nenek Moyang Virus HIV AIDS

Human Immunodeficiency Virus (HIV) masih tergolong pendatang baru di antara patogen manusia lainnya. Seperti diketahui, patogen ini baru diketahui muncul dan menyebar pada beberapa dekade terakhir saja.

Untuk itu, sejumlah peneliti mencari asal muasal virus tersebut. Awalnya mereka mencurigai bahwa Simian Immunodeficiency Virus (SIV), virus pada hewan primata lah yang melahirkan HIV. Virus SIV sendiri diduga berusia beberapa ratus tahun lebih tua dibanding HIV.

Setelah melakukan sejumlah penelitian, Preston Marx, virolog asal Tulane University menemukan sebaliknya. Virus SIV tampaknya sudah berusia setidaknya 32 ribu tahun. Artinya, virus itu sudah hadir, bisa dibilang hampir bersamaan dengan pemunculan manusia, jauh sebelum hadirnya HIV.

Pada penelitian, Marx dan timnya melakukan uji coba SIV pada monyet yang berasal dari pulau Bioko, pulau yang terlepas dari benua Afrika sekitar 10 ribu tahun lalu.

“Ternyata, varian virus SIV Bioko memiliki nenek moyang yang sama dengan virus yang ada di benua Afrika,” kata Marx, seperti dikutip dari Infection Research, 5 Januari 2011. “Ini mengindikasikan bahwa virus ini setidaknya sudah lama hadir, bahkan mungkin jauh lebih tua,” ucapnya.

Marx menyebutkan, kejadian-kejadian di abad 20 telah mengubah virus SIV dari virus monyet yang jinak menjadi wabah mematikan bagi manusia. “Meningkatnya transfusi darah dan makin banyaknya kota padat penduduk telah membantu penyebaran SIV yang berkembang menjadi HIV,” ucapnya.

“Jika kita tidak menemukan apa yang memicu pemunculan wabah HIV, sulit untuk mempersiapkan diri menghadapi penyakit apa yang akan hadir berikutnya,” ucap Marx. “Kita bisa menghasilkan varian virus baru tanpa mengetahui cara untuk menghentikan atau mengontrolnya,” ucapnya. (umi)

www.vivanews.com

Ternyata, Gen Manusia dan Terumbu Karang Sama

Sekelompok ilmuwan terkejut ketika mengetahui bahwa terumbu karang, salah satu bentuk kehidupan tertua di Bumi, memiliki gen yang sama dengan manusia. Kesamaan gen penyusun tubuh mencapai 70 persen.

Menurut penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan di jurnal Nature, tim peneliti telah mengurutkan genome dari organisme yang sudah berusia 650 juta tahun itu selama lima tahun.

“Terumbu karang memiliki tingkat kemiripan yang rendah dengan bangsa hewan,” kata Kenneth S. Kosik, peneliti asal University of California-Santa Barbara, seperti dikutip dari TG Daily, 10 Desember 2010.

“Contohnya, mereka tidak punya banyak neuron. Akan tetapi, genome terumbu karang membuktikan adanya banyak gen di dalam neuron,” ucapnya.

Peneliti lain dari Australia, yang telah menyelesaikan pengamatan genetik terhadap terumbu karang di Great Barrier Reef juga menemukan hal serupa.

“DNA yang sama antara manusia dan terumbu karang mencakup sejumlah DNA yang umumnya terkait dengan penyakit dan kanker,” kata Bernard Degnan, peneliti dari University of Queensland. “Ini membuka peluang adanya terobosan dalam penelitian sel dan mengatasi kanker,” ucapnya.

Degnan menyebutkan, dengan mengamati sel terumbu karang, kemungkinan kita bisa mendapatkan informasi seputar seluk beluk sel tubuh kita sendiri dan bagaimana kita dapat memanfaatkan sel terumbu karang untuk aplikasi medis di masa depan.

“Melindungi terumbu karang di samudera sangatlah penting bagi kelestarian mereka dan ekosistem di dalam laut,” kata Degnan. “Akan tetapi, temuan ini diharapkan dapat membuat manusia lebih melihat manfaat lain yang disediakan terumbu karang, yakni untuk riset medis yang menguntungkan manusia,” ucapnya.

www.vivanews.com
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
free web site traffic and promotion