Cegah Warga Pulang, Aparat Perketat Patroli
Sebanyak 198.000 ribu warga di lima wilayah yang ada di DIY dan Jawa Tengah tinggal di pengungsian karena pemukimannya disterilkan.
Untuk mencegah warga yang nekat pulang, aparat TNI/Polri hingga malam ini terus meningkatkan patroli.
"Ini untuk mencegah warga yang mencoba menerobos ke wilayah pemukimannya," kata Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Maarif di Gedung Agung, Yogyakarta. Maarif ditemani Menko Kesra Agung Laksono..
Sekadar diketahui, meski daerahnya masuk kawasan rawan bencana, masih banyak pengungsi yang nekad pulang ke rumahnya. Padahal kawasan itu harus steril untuk menghindari jatuhnya korban akibat awan panas. Di kampus UII, aparat sampai membarikade jalan keluar masuk. Namun tidak sedikit penduduk yang nekat pulang dengan menelusuri jalur-jalur tikus.
Mereka nekat pulang untuk memberi makan hewan ternaknya. Kebanyakan penduduk di sekitar Merapi menggantungkan hidup mereka pada hewan ternaknya, terutama sapi perah.
Sementara, perluasan kawasan rawan bencana Merapi menjadi 20 km membuat jumlah warga yang mengungsi membengkak. Hingga Sabtu malam, angkanya menembus 198.000 jiwa.
Para pengungsi itu tersebar di lima wilayah, yakni Sleman sebanyak 56.000 jiwa, Magelang sebanyak 62.000 jiwa, Kota Magelang 2.000 jiwa, Kota Klaten 40.000 jiwa, dan Boyolali 30.000 jiwa.
"Saat ini pengungsi memerlukan pakaian, genset, air bersih dan MCK, juga tikar, selimut dan tenda," kata dia.
Saat ini pengungsi juga mulai terserang penyakit, terutama infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) yang diderita lansia dan anak-anak. Pengungsi juga membutuhkan obat tetes mata akibat iritasi debu vulkanik Merapi. Sebanyak 30.000 pengungsi berada di GOR Maguwo.
Sementara data korban meninggal yang dimiliki BNPB tercatat 126 orang. Rinciannya di Sleman sebanyak 104 orang, Magelang 7 orang, Klaten 2 orang dan Boyolali 3 orang. Sedangkan korban luka di Sleman tercatat 147 orang, Magelang 14 orang, dan Klaten 57 orang.
Terkait dana bencana Merapi, Maarif mengatakan tidak akan ditambah. Jumlahnya tetap Rp 50 miliar. Sebab dana on call yang dikucurkan pemerintah hanya Rp150 miliar yang dibagi untuk tiga wilayah, Wasior, Mentawai dan Merapi
www.vivanews.com
Untuk mencegah warga yang nekat pulang, aparat TNI/Polri hingga malam ini terus meningkatkan patroli.
"Ini untuk mencegah warga yang mencoba menerobos ke wilayah pemukimannya," kata Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Maarif di Gedung Agung, Yogyakarta. Maarif ditemani Menko Kesra Agung Laksono..
Sekadar diketahui, meski daerahnya masuk kawasan rawan bencana, masih banyak pengungsi yang nekad pulang ke rumahnya. Padahal kawasan itu harus steril untuk menghindari jatuhnya korban akibat awan panas. Di kampus UII, aparat sampai membarikade jalan keluar masuk. Namun tidak sedikit penduduk yang nekat pulang dengan menelusuri jalur-jalur tikus.
Mereka nekat pulang untuk memberi makan hewan ternaknya. Kebanyakan penduduk di sekitar Merapi menggantungkan hidup mereka pada hewan ternaknya, terutama sapi perah.
Sementara, perluasan kawasan rawan bencana Merapi menjadi 20 km membuat jumlah warga yang mengungsi membengkak. Hingga Sabtu malam, angkanya menembus 198.000 jiwa.
Para pengungsi itu tersebar di lima wilayah, yakni Sleman sebanyak 56.000 jiwa, Magelang sebanyak 62.000 jiwa, Kota Magelang 2.000 jiwa, Kota Klaten 40.000 jiwa, dan Boyolali 30.000 jiwa.
"Saat ini pengungsi memerlukan pakaian, genset, air bersih dan MCK, juga tikar, selimut dan tenda," kata dia.
Saat ini pengungsi juga mulai terserang penyakit, terutama infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) yang diderita lansia dan anak-anak. Pengungsi juga membutuhkan obat tetes mata akibat iritasi debu vulkanik Merapi. Sebanyak 30.000 pengungsi berada di GOR Maguwo.
Sementara data korban meninggal yang dimiliki BNPB tercatat 126 orang. Rinciannya di Sleman sebanyak 104 orang, Magelang 7 orang, Klaten 2 orang dan Boyolali 3 orang. Sedangkan korban luka di Sleman tercatat 147 orang, Magelang 14 orang, dan Klaten 57 orang.
Terkait dana bencana Merapi, Maarif mengatakan tidak akan ditambah. Jumlahnya tetap Rp 50 miliar. Sebab dana on call yang dikucurkan pemerintah hanya Rp150 miliar yang dibagi untuk tiga wilayah, Wasior, Mentawai dan Merapi
www.vivanews.com
0 komentar:
Posting Komentar
Untuk umum, Beri Komentar Sebagai : Anonymous atau Name/URL