WikiLeaks: AS Risau Dana Teror dari Saudi
Bocoran memo diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di seluruh dunia masih terus digelontorkan di laman WikiLeaks. Bocoran terbaru mengungkapkan kekhawatiran AS atas banyaknya penyumbang dari Arab Saudi bagi kegiatan terorisme.
Washington pun menyinggung lemahnya peran pemerintah Arab Saudi dalam mengatasi pendanaan itu. “Pendanaan teroris dari Arab Saudi masih merupakan masalah yang serius,” tulis memo kawat yang disiapkan untuk kunjungan utusan khusus AS, Richard Holbrooke, ke Arab Saudi pada awal tahun ini seperti dilansir dari laman stasiun televisi CNN, Senin 6 Desember 2010.
Memo singkat tersebut adalah salah satu dari memo panjang kedubes AS di Arab Saudi mengenai aliran dana kepada kelompok teroris di Pakistan dan Afghanistan dari individu dan dermawan di negara tersebut.
Memo yang ditulis oleh Duta Besar AS untuk Arab Saudi, James B Smith, mengatakan bahwa walaupun Arab Saudi mulai bekerja sama dan aktif dalam menghadang aliran dana teroris, termasuk yang mendanai kelompok Laskar e-Tayyiba (LeT) di Pakistan, namun pendonor masih tetap menjamur.
“Pendonor di Arab Saudi masih terus melakukan pendanaan bagi kelompok ekstrimis Sunni di seluruh dunia,” tulis memo tersebut.
Smith juga mengatakan bahwa peran Arab Saudi sangat lemah dalam mengatasi hal ini. Pada memo tersebut dikatakan bahwa pemerintah Arab Saudi bergantung sepenuhnya pada laporan analitis dan petunjuk dari CIA untuk mengatasi terorisme.
“Kementerian Keuangan juga memimpin usaha untuk memblokir sumber pendanaan teroris, dengan membentuk satuan pemberantas keuangan gelap dan mengirimkan ahlinya ke Kabul, Afghanistan dan dimana saja untuk membantu melacak peredaran dana tersebut,” tulis memo tersebut.
Pada bocoran kawat lainnya adalah memo yang dikirim oleh Menteri Luar Negeri Hillary Clinton kepada Kedubes AS di Riyadh pada Desember 2009. Pada memo tersebut, Clinton mengatakan bahwa membujuk pemerintah Saudi untuk memberantas pendanaan teroris adalah prioritas strategis yang menjadi tantangan bagi AS.
“Donor di Arab Saudi menyumbangkan pendanaan yang besar bagi kelompok ekstrimis Sunni di seluruh dunia, hingga jutaan dolar,” ujar memo Clinton tersebut.
“Riyadh hanya melakukan sedikit tindakan untuk menghadang aliran dana untuk Taliban dan LeT yang mempunyai hubungan dengan al-Qaeda,” tulis memo itu lagi.
Bocoran terbaru ini termasuk ke dalam 931 dokumen yang telah dibocorkan oleh laman WikiLeaks per Senin, 6 Desember 2010. Masih lebih dari 250.000 dokumen kedubes AS lagi yang belum dibocorkan oleh situs pembocor rahasia ini.
Sementara itu, pendirinya, Julian Assange, masih dalam incaran Interpol atas tuduhan pelecehan seksual di Swiss. Diduga dia bersembunyi di Inggris, namun polisi Inggris menolak untuk menangkapnya karena surat penangkapan yang dikeluarkan atasnya tidak berlaku di Inggris.
www.vivanews.com
Washington pun menyinggung lemahnya peran pemerintah Arab Saudi dalam mengatasi pendanaan itu. “Pendanaan teroris dari Arab Saudi masih merupakan masalah yang serius,” tulis memo kawat yang disiapkan untuk kunjungan utusan khusus AS, Richard Holbrooke, ke Arab Saudi pada awal tahun ini seperti dilansir dari laman stasiun televisi CNN, Senin 6 Desember 2010.
Memo singkat tersebut adalah salah satu dari memo panjang kedubes AS di Arab Saudi mengenai aliran dana kepada kelompok teroris di Pakistan dan Afghanistan dari individu dan dermawan di negara tersebut.
Memo yang ditulis oleh Duta Besar AS untuk Arab Saudi, James B Smith, mengatakan bahwa walaupun Arab Saudi mulai bekerja sama dan aktif dalam menghadang aliran dana teroris, termasuk yang mendanai kelompok Laskar e-Tayyiba (LeT) di Pakistan, namun pendonor masih tetap menjamur.
“Pendonor di Arab Saudi masih terus melakukan pendanaan bagi kelompok ekstrimis Sunni di seluruh dunia,” tulis memo tersebut.
Smith juga mengatakan bahwa peran Arab Saudi sangat lemah dalam mengatasi hal ini. Pada memo tersebut dikatakan bahwa pemerintah Arab Saudi bergantung sepenuhnya pada laporan analitis dan petunjuk dari CIA untuk mengatasi terorisme.
“Kementerian Keuangan juga memimpin usaha untuk memblokir sumber pendanaan teroris, dengan membentuk satuan pemberantas keuangan gelap dan mengirimkan ahlinya ke Kabul, Afghanistan dan dimana saja untuk membantu melacak peredaran dana tersebut,” tulis memo tersebut.
Pada bocoran kawat lainnya adalah memo yang dikirim oleh Menteri Luar Negeri Hillary Clinton kepada Kedubes AS di Riyadh pada Desember 2009. Pada memo tersebut, Clinton mengatakan bahwa membujuk pemerintah Saudi untuk memberantas pendanaan teroris adalah prioritas strategis yang menjadi tantangan bagi AS.
“Donor di Arab Saudi menyumbangkan pendanaan yang besar bagi kelompok ekstrimis Sunni di seluruh dunia, hingga jutaan dolar,” ujar memo Clinton tersebut.
“Riyadh hanya melakukan sedikit tindakan untuk menghadang aliran dana untuk Taliban dan LeT yang mempunyai hubungan dengan al-Qaeda,” tulis memo itu lagi.
Bocoran terbaru ini termasuk ke dalam 931 dokumen yang telah dibocorkan oleh laman WikiLeaks per Senin, 6 Desember 2010. Masih lebih dari 250.000 dokumen kedubes AS lagi yang belum dibocorkan oleh situs pembocor rahasia ini.
Sementara itu, pendirinya, Julian Assange, masih dalam incaran Interpol atas tuduhan pelecehan seksual di Swiss. Diduga dia bersembunyi di Inggris, namun polisi Inggris menolak untuk menangkapnya karena surat penangkapan yang dikeluarkan atasnya tidak berlaku di Inggris.
www.vivanews.com
0 komentar:
Posting Komentar
Untuk umum, Beri Komentar Sebagai : Anonymous atau Name/URL